Waspada, Hutang Bisa Membunuhmu!
Malam itu, aku dan istri menghitung-hitung kembali posisi hutang berjalan dan strategi apa yang bisa digunakan untuk melunasinya, baik secara jumlah maupun secara kuantitas.
Ya, di usia pernikahan yang memasuki tahun tahun ke 14 - kami menikah tahun 2007, Aku belum tuntas soal pemasukan, hutang dan tabungan.
Hampir-hampir atau bahkan sangat berantakan. Apalagi dalam tiga bulan terakhir ini.
Penghasilan tetap saat ini, berasal dari gaji sebagai Marketing/Editor di AwfaMedia dan sebagai editor di Sumselupdate.com dengan total Rp 4,9 juta saja.
Besar? Relatif.. Jika penghasilan ini didapat saat saya memulai kerja, masih bujangan, tidak ada cicilan, tentu saja sudah sangat cukup alhamdulillah.. karena sudah melebihi UMR di kota tempat tinggal saya.
Tapi, masalahnya dengan penghasilan di atas, sudah ada hutang di bank, cicilan sana-sini, dua orang anak, kebutuhan sekolah anak, dan lainnya
Untuk kamu tahu, aku punya hutang dengan jumlah yang cukup besar yakni di kisaran Rp150 juta (sejak Desember 2019 - sudah dua tahun berjalan hutang bank).
Secara total, rasio hutang sudah mencapai 81% dari total gaji saya di atas. Yakni KPR di salah satu bank syariah, hutang Pegadaian dua akun dan kasbon kantor.
Tentu saja, ini sangat jauh dari batas aman. Seperti saran penasihat keuangan, rasio hutang yang sehat di posisi maksimal 30% dari penghasilan tetap.
Itu juga belum termasuk hutang yang belum dicicil. Seperti hutang ke Ayuk Diana (suami Kuyung Ani) Rp 5 juta, hutang ke Ayuk Liza (ayuknya Istri) Rp 1,5 juta dan hutang ke Pak Sarwono (Kepala Tukang yang mengerjakan rumah) sebesar Rp 10 juta.
Sehingga, jika menghitung pengeluran rutin bulanan non hutang. Maka sisa gaji yang tinggal Rp 730 ribu, hampir tidak bisa ngapa-ngapain lagi.
Berikut saya buka posisi keuangan saya :
Kamu lihat? Betapa gila-gilaan kondisi keuangan kami. Betapa jomplang-nya antara pemasukan dan pengeluaran setiap bulannya. Bila tiba waktu buntu dan tidak ada cash sama sekali di tangan. Rasanya ingin menjerit.
Jangankan soal biaya rekreasi, simpanan darurat untuk jaga-jaga, makan-minum di luar, atau uang amplop kondangan, untuk memastikan roda ekonomi tetap bergulir dari bulan ke bulan saja, rasanya kami masih ngos-ngosan.
Kesimpulannya, jangan main-main dengan hutang. Apalagi jika pemasukan kamu belum tetap. Hutang bisa menghapus kebahagiaanmu di masa depan.
Lalu bagaimana cara kami melewati masa-masa sulit setiap akhir bulan? Simak dalam tulisan berikutnya ya.. (*)